Dua puluh empat jam dalam sehari terasa tidak cukup bagi Elang dan Jingga. Lewat gelembung percakapan hijau di layar ponsel, mereka membangun semesta milik berdua mulai dari lelucon pagi hari hingga diskusi eksistensial sebelum tidur. Namun, saat cinta sudah sedalam samudera dan rencana masa depan mulai disusun, sebuah pertanyaan sederhana tentang “Minggu pagi” mengungkap jurang yang selama ini mereka abaikan. Sebuah kisah tentang bagaimana teknologi bisa menyatukan hati, namun tradisi dan iman tetap memegang kendali atas akhir cerita.
Bagian I: Pagi
[07:15] Elang: Pagi, Nona Pemimpi. Sudah bangun atau masih debat sama bantal?
[07:18] Jingga: Pagi, Tuan Tukang Tagih. Sudah bangun dong. Sedang menatap langit, warnanya persis seperti namaku hari ini. Jingga yang tenang.
[07:19] Elang: Pantas aku merasa hangat hari ini. Ternyata mataharinya kalah saing sama senyummu di sana.
[07:20] Jingga: Gombal! Masih pagi, Lang. Simpan tenagamu buat beberes kantor hari ini. Oh ya, jangan lupa sarapan. Aku tahu bubur ayam depan kantormu itu enak, tapi tolong, jangan pakai emping banyak-banyak. Kolesterol!
[07:22] Elang: Siap, Dokter. Kamu juga ya. Hari ini jadwal padat?
[07:25] Jingga: Lumayan. Ada rapat redaksi sampai sore bahas arus balik Lebaran. Mungkin aku bakal jarang pegang HP. Jangan kangen ya? 😛
[07:26] Elang: Telat. Kangennya sudah sampai ubun-ubun sejak lima menit lalu. Semangat ya, Jingga. Aku selalu ada di sini, di balik layar ini.
Bagian II: Siang
[12:30] Elang: (Mengirim foto semangkuk soto ayam) Makan siang dulu. Kamu jangan sampai telat makan ya. Aku nggak mau pacarku jadi zombi gara-gara lapar.
[13:05] Jingga: Waah enaknya! Aku baru selesai rapat. Ini lagi pesan salad. Kamu kok sotonya nggak pakai sambal? Nggak seru!
[13:06] Elang: Perutku lagi protes kalau kena pedas. Lagipula, hidupku sudah cukup pedas dan menantang sejak kenal kamu, haha.
[13:08] Jingga: Issh. Lang, tadi di rapat aku kepikiran sesuatu.
[13:09] Elang: Kepikiran apa? Mau nikah bulan depan? Ayo saja, aku sudah siapin tabungan buat DP rumah.
[13:10] Jingga: Iih, serius! Aku kepikiran soal artikel baru. Tentang “Jarak terjauh manusia”. Menurutmu apa?
[13:12] Elang: Jarak terjauh? Mungkin… saat dua orang duduk berdampingan tapi hatinya sudah nggak searah. Atau mungkin, saat kita punya perasaan yang sama tapi dunia punya aturan yang beda.
[13:14] Jingga: (Mengetik cukup lama…) Dunia punya aturan yang beda… Kamu kok puitis banget hari ini?
[13:15] Elang: Sisi melankolisku keluar kalau lagi rindu. Sudah ya, aku lanjut dulu. I love you, Jingga.
[13:16] Jingga: I love you too, Elang.
Bagian III: Malam
[19:45] Jingga: Hujan di sini, Lang. Bau tanahnya enak banget. Jadi pengen duduk di teras bareng kamu sambil dengerin lagu-lagu lama.
[19:48] Elang: Sama, di sini juga gerimis. Aku lagi dengerin ‘Fix You’-nya Coldplay. Pas banget sama suasana hati.
[19:50] Jingga: Lang… ingat nggak pertama kali kita kenal di aplikasi itu? Aku nggak pernah nyangka algoritma bisa seajaib ini.
[19:52] Elang: Ingat banget. Kamu yang pertama kali menyapa. Katanya namaku kayak burung yang gagah, tapi fotoku malah lagi megang kucing liar.
[19:53] Jingga: Habisnya lucu! Kontras banget. Dan ternyata, setelah enam bulan, kamu memang sehangat itu. Kamu satu-satunya orang yang tahu kapan aku lagi sedih tanpa aku harus bilang.
[19:55] Elang: Eaa! Karena kita satu frekuensi, Jingga. Kadang aku merasa kita ini satu jiwa yang terbelah dua. Kamu bagian yang cerah, aku bagian yang tenang.
[19:58] Jingga: Oya, tadi Ibu nanya lagi…
[20:00] Elang: Nanya soal apa? Soal kita?
[20:02] Jingga: Iya. Ibu tanya, “Jingga, kapan Elang main ke rumah? Ibu pengen kenal.” Aku bingung mau jawab apa.
[20:05] Elang: Bilang saja akhir bulan ini aku ke sana. Aku juga pengen ketemu Ibu. Pengen minta izin secara resmi buat serius sama kamu. Kita sudah bicarakan ini kan? Kita mau lanjut ke jenjang itu.
[20:07] Jingga: Aku takut, Lang.
[20:08] Elang: Takut kenapa? Aku nggak gigit kok, paling cuma grogi saja di depan Ibu.
[20:10] Jingga: Bukan itu. Kamu tahu sendiri kan… kita belum pernah benar-benar bahas “hal itu” secara mendalam ke orang tua kita masing-masing. Selama ini kita cuma asyik di dunia kita sendiri.
[20:12] Elang: Dunia luar memang berisik, Jingga. Tapi selama kita pegangan tangan, aku yakin kita bisa lewat. Aku sayang kamu lebih dari apapun. Perbedaan itu… kita cari jalan tengahnya nanti, ya?
[20:15] Jingga: Semoga ya, Lang. Semoga Tuhan juga setuju sama jalan tengah kita.
Bagian IV: Selamat Malam
[22:00] Elang: Sudah mau tidur?
[22:02] Jingga: Belum, sedang baca buku. Kamu?
[22:03] Elang: Sama. Oh ya, besok kan libur. Aku rencana mau jemput kamu agak pagi, gimana? Kita sarapan bareng, terus jalan-jalan ke taman kota.
[22:05] Jingga: Besok? Waduh, kalau pagi aku nggak bisa, Lang.
[22:06] Elang: Lho, kenapa? Mau lari pagi bareng komunitasmu lagi?
[22:08] Jingga: Bukan. Besok Minggu, Lang. Kamu lupa? Jadwalku kan rutin.
[22:09] Elang: Rutin apa? Perasaan minggu lalu kita jalan pagi deh.
[22:11] Jingga: Minggu lalu kan aku izin karena nggak enak badan. Besok aku harus ke Gereja, Lang. Ada tugas paduan suara juga. Kamu sendiri bukannya besok pagi ada acara keluarga?
[22:13] Elang: (Hening cukup lama…)
[22:18] Elang: Oh… iya. Aku lupa. Besok Minggu ya. Gereja ya?
[22:20] Jingga: Lang? Kok tiba-tiba nadamu aneh gitu?
[22:22] Elang: Enggak, Jingga. Cuma… tiba-tiba sadar saja. Besok pagi, saat kamu melipat tangan dan memuji Tuhanmu di depan altar, aku juga baru saja selesai melipat sajadahku setelah subuh tadi.
[22:24] Jingga: Lang, kita sudah tahu ini dari awal kan? Kenapa baru sekarang kedengarannya menyakitkan?
[22:26] Elang: Karena selama ini kita cuma asyik chat “I love you” dan kirim foto makanan. Kita lupa kalau jam dinding kita berdetak menuju arah yang berbeda setiap Minggu pagi. Kamu ke arah lonceng, aku ke arah Kiblat.
[22:28] Jingga: Tapi Tuhan itu satu, Lang. Kita menyembah sosok yang sama, kan?
[22:30] Elang: Tuhan memang satu, Jingga. Tapi cara kita menuju kepada-Nya punya pagar yang sangat tinggi. Pagar yang dibangun oleh manusia, tradisi, dan… orang tua kita.
[22:32] Jingga: (Mengirim stiker menangis) Aku nggak mau kehilangan kamu hanya karena urusan Minggu pagi.
[22:35] Elang: Aku juga nggak mau, Jingga. Tapi tadi sore, sebelum Maghrib, Bapak bilang… “Cari yang searah, Lang. Biar kalau berlayar, imamnya nggak bingung arah kiblatnya ke mana.”
[22:37] Jingga: Dan Papa juga bilang kemarin setelah ibadah… “Cari yang seiman, Nduk. Biar kalau berdoa, aminnya nggak tabrakan.”
[22:40] Elang: Jadi… gimana?
[22:45] Jingga: Kita istirahat dulu ya, Lang? Malam ini mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.
[22:47] Elang: Iya. Selamat malam, Jingga. Semoga di mimpi, kita punya Tuhan yang membolehkan kita bersama tanpa syarat.
[22:48] Jingga: Selamat malam, Elang. Sampai bertemu di doa masing-masing… yang jalurnya berbeda.
Bagian V: Minggu Pagi
[04:30] Elang: (Status: Online) Baru selesai Subuh. Aku mendoakanmu. Meski aku tahu, namamu mungkin tidak ada dalam daftar syafaat yang diajarkan guruku, tapi namamu selalu ada dalam bisikanku pada-Nya.
[07:05] Jingga: (Status: Online) Aku bersiap ke Gereja. Aku akan menyalakan lilin untukmu. Semoga Tuhanmu dan Tuhanku berdiskusi, mencari celah agar kita tidak perlu berpisah secepat ini. Amin.
[07:15] Elang: Aamiiin.
Di luar layar chat, dunia terus berjalan dan tidak ada yang tahu kelanjutan kisah masing-masing.
Catatan Kaki:
Kisah ini adalah kisah nyata penulisnya.
Membaca percakapan antara Elang dan Jingga seperti melihat dua orang yang sedang membangun jembatan di atas jurang yang tak berdasar. Di satu sisi, ada kehangatan rutinitas; perhatian tentang bubur ayam, foto soto, hingga rindu yang meluap. Namun di sisi lain, ada kenyataan getir setiap kali kalender menunjukkan hari Minggu.
Kisah ini bukan sekadar tentang cinta beda agama, melainkan tentang “Jarak Terjauh Manusia”. Seperti yang dikatakan Elang, jarak terjauh bukanlah kilometer, melainkan ketika dua orang saling mencintai namun “dunia memiliki aturan yang berbeda”.
Melalui potongan chat ini, kita diajak melihat betapa ironisnya sebuah hubungan ketika:
- Keyakinan dirasa menjadi pembatas yang lebih kuat daripada janji setia.
- Restu orang tua seolah menjadi hakim yang menentukan apakah sebuah kebersamaan boleh dilanjutkan atau harus segera diakhiri.
Dialog ini ditutup dengan sebuah kepasrahan yang menyesakkan. Elang dengan sajadahnya dan Jingga dengan lilinnya. Keduanya sama-sama mengetuk pintu Tuhan, namun menyadari bahwa pagar yang dibangun manusia terkadang terasa lebih tinggi daripada langit itu sendiri.
Tuhan itu Satu namun manusia sendiri yang membuat-Nya jadi banyak.
Pada akhirnya, kisah Elang dan Jingga meninggalkan kita pada satu pertanyaan renungan: Apakah cinta cukup kuat untuk meruntuhkan sesuatu yang dinamakan tradisi, ataukah kita memang ditakdirkan untuk mencintai seseorang hanya untuk mengikhlaskannya karena keyakinan yang berbeda?