Rhea: Anomali Waktu di Kapsul Sunyi

Stasiun luar angkasa ISS-45 hancur dalam sekejap, terseret oleh gravitasi komet raksasa yang misterius. Rhea, satu-satunya penyintas, terperangkap dalam kapsul penyelamat yang terkatung-katung di ruang hampa yang dingin. Ditemani rekaman debat filosofisnya dengan Adam tentang

Written by: Semesta Kisah

Published on: 16/03/2026

Stasiun luar angkasa ISS-45 hancur dalam sekejap, terseret oleh gravitasi komet raksasa yang misterius. Rhea, satu-satunya penyintas, terperangkap dalam kapsul penyelamat yang terkatung-katung di ruang hampa yang dingin. Ditemani rekaman debat filosofisnya dengan Adam tentang asal-usul manusia, Rhea harus bertahan hidup selama tiga belas minggu yang menyiksa dalam kesendirian.

Bagian I: Perdebatan di Kesunyian

“Jadi, kau masih percaya bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan?” Rhea membuka percakapan.

“Tentu saja aku masih percaya bahwa kita diciptakan,” tukas Adam.

“Ya ya, dongeng nenek moyang kita zaman dulu.”

Rhea merenung, menikmati setiap kalimat yang muncul dari diskusinya dengan Adam tentang manusia.

“Kau sendiri,” kali ini Adam menyela, “masih percaya bahwa manusia adalah makhluk yang muncul secara kebetulan di muka Bumi?”

“Fakta ilmiah sudah menunjukkannya.”

“Begitukah?” cecar pria beramput putih itu.

Rhea tersenyum.

Ia memutar kembali rekaman percakapan mereka berdua yang baru didengarnya tadi.  Hal tersebut sudah berkali-kali dilakukannya, dan ia tak akan pernah bosan.

“Jadi, kau masih percaya bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan?”

“Tentu saja aku masih percaya bahwa kita diciptakan.”

Rekaman itulah satu-satunya yang menemani Rhea dari dinginnya ruangan kapsul luar angkasa tersebut.

Terkatung-katung tanpa tujuan.

Kapsul yang ditumpanginya saat ini melayang tanpa tujuan setelah pada tanggal 24 Oktober stasiun luar angkasa ISS-45 – tempat ia bekerja – terseret gravitasi komet raksasa yang entah dari mana datangnya.  Kecepatan gerak komet tersebut membuat bagian demi bagian ISS-45 perlahan terkelupas lalu stasiun tersebut hancur menjadi kepingan sampah angkasa yang kemudian diseret mengelilingi alam semesta oleh sang komet.

Bagian II: Keberuntungan atau Kesialan?

Rhea beruntung kapsul yang ditumpanginya mampu melepaskan diri dari gravitasi komet tersebut.

Beruntung?  Rhea tersenyum getir.

Jika terkatung seperti ini, apa aku masih dibilang beruntung?

Sewaktu melepaskan diri, suplai oksigen dan peralatan penunjang hidup lain dalam keadaan baik dan lengkap.

Hanya ada satu masalah.

Alat komunikasi di kapsul tersebut rusak.

Sebuah kapsul melayang di lautan bintang yang luas, sunyi, dan dingin tanpa bisa mengabarkan di mana posisinya dan bagaimana kondisinya…

Ilmuwan muda itu mendesah.

Ini hanya menunda kematian.

Terdengar lagi suara Adam dari rekaman percakapan mereka,

“Sekarang bayangkan sebuah ember berisi tanah liat atau entah apapun sesukamu yang kau anggap sebagai bahan dasar penyusun manusia.  Isilah pula ember itu dengan -katakanlah- bola pingpong untuk mata, sabut kelapa untuk rambut, bahkan bisa kau tambahkan ini sebagai alat reproduksi.  Lalu ledakkan ember tersebut.  BUM!  Lihatlah hasil dari sebuah kebetulan, apakah letak matanya presisi?  Apakah jumlahnya tepat?  Apakah rambut-rambut tersebut terletak di tempat yang benar?  Dan yang terpenting, apa alat reproduksinya ada di tempat yang semestinya?  Hanya sebuah kebetulan luar biasa yang membuat semua organ tubuh manusia berada di tempatnya, dan aku tidak mempercayai kebetulan yang seperti itu.”

Rhea tersenyum lagi mendengar rekaman tersebut.

Bodohnya kau, tentunya tidak sesederhana itu sebuah kehidupan muncul di satu tempat.

Bagian III: Tiga Belas Minggu di Lautan Bintang

Rhea tidak tahu berapa lama ia terkatung-katung di luar angkasa seperti ini.  Hanya saja jika menggunakan standar waktu Bumi, maka sudah tiga belas minggu ia berada di sini – dalam lautan kesunyian luar angkasa.  Panel indikator menunjukkan bahwa bahan bakar penggerak kapsul masih 90% terisi.  Ia memang sengaja belum menggunakannya selama ini.  Adalah hal yang sangat berisiko menghabiskan bahan bakar tanpa tahu ke arah yang dituju.

Baca juga:  Monoton

Tapi sekarang suplai oksigen tinggal 50%, dan aku masih tidak tahu ada di mana sekarang.  Bagian langit yang ini belum tercatat di peta bintang.

Tapi setidaknya aku bisa membanggakan diri sebagai orang pertama yang menemukan dan menjelajahi bagian luar angkasa yang ini.

Rhea tahu bahwa di setiap kapsul terpasang kamera yang secara berkala akan merekam dan memotret lingkungan sekitarnya.  Foto dan video tersebut sementara tersimpan di memori internal kapsul dan dikirim ke Bumi melalui stasiun, satelit, atau pemancar terdekat segera setelah menemukan jalur komunikasi.

Haha, jalur komunikasi.  Kembali Rhea tersenyum getir.

Mungkin umurku tinggal 13 minggu lagi…

Bagian IV: Gravitasi dan Oksigen

Riuhnya alarm di kapsul tersebut membangunkan Rhea.

  1. .. Apa?  Ada apa?

Setelah berminggu-minggu lamanya dalam kesunyian dan berteman rekaman percakapakan, bunyi alarm ini adalah sesuatu yang luar biasa baginya.

Ada apa?

Panel indikator menunjukkan kapsul bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Kapsul ini terseret gravitasi!

Berikutnya Rhea merasakan guncangan hebat.  Gadis itu mencoba menoleh untuk melihat keluar melalui satu-satunya jendela yang terdapat di kapsul tersebut.

Tidak bisa!  Tidak jelas!

Ia hanya mampu melihat garis-garis cahaya berwarna-warni; biru, merah, putih dan hijau.  Ia juga sempat melihat segaris cahaya berwarna jingga.

Api!

Kapsul ini… Terbakar?

Rhea berusaha mempertahankan kesadarannya.  Garis-garis berwarna tadi perlahan menghilang tergantikan warna jingga yang makin jelas.  Suhu dalam kapsul juga perlahan meninggi.

Dan Rhea semakin yakin!

Api!

Jika kapsul ini terbakar, hanya ada satu kemungkinan.

Oksigen!

Aku akan jatuh di sebuah planet yang mengandung oksigen!

Di tengah guncangan hebat, Rhea meraih dan mengaktifkan sensor otomatis agar roket menyala ketika sudah dekat dengan permukaan.  Ini dilakukan untuk meminimalisir tumbukan antara kapsul dengan permukaan planet.

Suhu dalam kapsul semakin meningkat.

Perjalanan menembus atmosfer planet ini terasa sangat panjang bagi Rhea.

Ia berteriak!

Bagian V: Matahari Selalu Berada di Ufuk

“Bangun, Rhea.  Bangun.”

Sebuah tepukan lembut di pipinya menyadarkan Rhea.

Apa… Aku… Mimpi?

Pandangannya masih kabur, namun ia bisa merasakan kehadiran satu sosok yang dikenalnya.

Diakah?

Benarkah itu dia?

Pandangannya makin jelas dan ia tak ragu lagi dengan sosok yang ada di hadapannya.

“A… Adam?” lirihnya lemah.

“Ah, kau sudah sadar,” Adam tersenyum kecil dan membantu Rhea agar gadis itu bisa duduk.

Rhea memandang berkeliling.

Saat ini ia dan Adam sedang berada di tepi pantai.  Nun jauh di sana, matahari berada sejengkal di atas ufuk.  Sinarnya menyorot permukaan laut yang tenang, menimbulkan kilauan berwarna keemasan.

“Apa ini matahari terbit atau terbenam?”  tanya Rhea

“Tak usah dipikirkan,” balas Adam, “matahari akan berada di situ sepanjang waktu.  Tak akan terbit maupun terbenam.”

“Maksudmu?” Rhea menoleh dengan ekspresi kebingungan.

“Kau bukan di Bumi,” jawab Adam.

“Tapi…” Rhea menoleh kesana-kemari.  “Ini terasa seperti Bumi.  Maksudku… Udara, air, matahari…” Rhea mengambil segenggam pasir, “bahkan pasir ini… dan pepohonan itu.  Ini semua sangat Bumi.  Khas Bumi!”

Baca juga:  Garam di Ujung Lidah, Karang di Dada

“Rhea…”

“Kau bercanda, Adam,” tukas Rea.  “Kau pasti bercanda!  Atau jangan-jangan aku sudah mati entah kapan karena kehabisan oksigen di kapsul, dan aku memimpikan ini!”

Gadis itu mencubit lengannya sendiri.

“Lihat!  Aku tidak merasakan sakit!  Ini tidak nyata, Adam!  Lagipula kau juga sudah mati!  Kau juga tidak nyata!”

“Rhea…” ujar Adam tenang seraya tetap duduk.  “Di sini memang tidak ada yang namanya sakit.”

Pria berambut putih itu kemudian bangkit dan menghampiri Rhea.

“Dan ya, mungkin saja aku tidak nyata.  Tapi aku bisa menunjukkan di mana kapsul yang membawamu.”

Bagian VI: Cahaya tak Berujung

Entah sudah berapa lama Rhea menghabiskan waktunya dengan Adam di planet misterius tersebut.  Matahari di sini tak berubah posisinya, bahkan jam yang dikenakan Rhea pun tak berubah angkanya.

“Jam itu tidak rusak,” ucap Adam.  “Tapi di sini, waktu mempunyai aturannya sendiri dan berjalan di luar imajinasi kita.  Kau akan menyadarinya nanti.”

Pada suatu waktu Adam mengajak Rhea melihat sebuah tempat di planet tersebut.

“Itu,” tunjuk Adam, “lihat di sana.”

Tempat itu sebuah padang yang luas – sangat luas.  Dan di tengah-tengah padang tersebut terdapat segaris cahaya terang dengan warna yang tak pernah dilihat Rhea sebelumnya.  Cahaya itu mengarah ke langit dan sepertinya tak ada ujungnya.

“Ke mana cahaya itu mengarah?” tanya Rhea.

“Di situlah menariknya,” jawab Adam.  “Cahaya itu mengarah ke sebuah titik di Bumi.”

Mata Rhea membelalak.

“Benarkah?”

Adam mengangguk.

“Entah bagaimana caranya, Bumi dan tempat ini terhubung.”

Bagian VII: Paradoks Waktu

“Kau harus pulang,” ujar Adam tiba-tiba.

“Pulang?” Rhea terkejut.  “Ke mana?”

“Tentu saja ke Bumi.”

“Tapi…”

“Tempatmu bukan di sini, Rhea,” tukas Adam.  “Setidaknya, belum.”

“Kenapa?”

“Dalam bahasamu, tubuhmu belum terurai menjadi partikel yang lain.  Tubuhmu masih berupa tulang, darah, daging, dan kulit.  Kondisi di sini masih belum cocok buat tubuhmu.”

“Maksudmu?” Rhea tak mengerti.

“Kami di sini bergerak dengan kecepatan yang melebihi kemampuan matamu menangkapnya, itulah sebab kenapa kau tak melihat orang lain di sini – padahal di sini sangat banyak orang.”

“Lalu kenapa aku bisa melihatmu?”

“Itu karena aku memperlambat gerakanku agar bisa terlihat olehmu.”

“Aku mengerti,” desah Rhea.  “Jadi, aku belum bisa tinggal di sini.”

“Dengan tubuhmu yang sekarang, ya,” balas Adam.

Mereka tiba di tempat dimana kapsul yang membawa Rhea berada.

“Aku…,” Rhea ragu, “bisa kembali ke Bumi dengan ini?”

Ia memasuki kapsul yang tampak baru tersebut.

Apa ini sudah diperbaiki?

Tapi kapan?

Bagaimana memperbaikinya?

Dan siapa yang melakukannya?

Rhea menghela napas.

“Nah, sekarang tutup kapsulnya,” pinta Adam.

“Adam…” panggil Rhea.

Adam hanya memandangnya.

“Apa kau masih mengingat diskusi kita dulu?”

“Tentang apa?” tanya Adam.

“Tentang apakah manusia diciptakan atau muncul secara kebetulan di muka Bumi.”

Adam tertawa kecil, ia kemudian menutup dan mengunci kapsul tanpa menjawab pertanyaan Rhea.  Pria itu kemudian memberi isyarat perpisahan sebelum Rhea merasa kapsul yang ditumpanginya tersentak dan meluncur dengan cepat, cepat, dan cepat menembus langit.

Epilog

Rhea tidak tahu bagaimana akhirnya ia bisa terbangun di sebuah Rumah Sakit.

Dari cerita kawan-kawannya, ia mengetahui bahwa kapsul yang membawanya ditemukan di sebuah pulau terpencil di Indonesia.

Baca juga:  Project Adam & The Fallen Angel

“Kapan aku ditemukan?” tanyanya.

Dan jawaban yang didapatnya sungguh membuat Rhea tak habis pikir.  Sejak peristiwa tragis yang terjadi pada stasiun angkasa ISS-45, kapsul yang membawa Rhea ditemukan 6 hari kemudian.

“Kau beruntung,” kata Ryan ketua tim investigasi, “hasil investigasi menyebutkan bahwa kapsul yang kau tumpangi saat itu ditumbuk partikel komet sehingga malah keluar dari jalur komet dan menuju Bumi.”

5 hari?  Bukannya aku selama 13 minggu terkatung-katung di luar angkasa?

Bagaimana bisa?

“Tapi ada beberapa hal yang aneh,” sambung Ryan.  “Kau tahu, seharusnya kapsul merekam dan memotret secara berkala…”

Deg!

“Lalu?” tanya Rhea dengan suara bergetar.  “Apa ada yang aneh?”

“Ya.  Hasil penghitungan menunjukkan bahwa kamera sudah memotret selama beberapa kali tapi tidak ada satupun gambar yang tertangkap.”

“Bagaimana dengan video?” cecar Rhea.

“Lebih aneh,” sahut Ryan.  “Sama seperti foto, video hanya menampilkan sinyal statis seperti TV rusak, tak ada gambar yang muncul.  Anehnya, menurut perhitungan tercatat bahwa kamera sudah merekam video selama beberapa minggu.”

Rhea tercenung.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Dan ia teringat ucapan Adam beberapa waktu lalu,

“Di sini waktu mempunyai aturannya sendiri dan berjalan di luar imajinasi kita, kau akan menyadarinya nanti.”

Inikah maksudmu, Adam?

Catatan Kaki:

Menghadirkan kisah “Rhea: Anomali Waktu di Kapsul Sunyi” di Semesta Kisah adalah sebuah eksperimen penulisnya dalam memadukan konsep fisika kuantum dengan kerapuhan perasaan manusia. Melalui karakter Rhea, kami ingin mengeksplorasi apa yang terjadi ketika waktu – sesuatu yang biasanya kita anggap sebagai garis lurus – mulai membengkok dan menjebak kita dalam kesendirian yang absolut.

Waktu itu relatif. Itu pula yang ingin penulisnya tunjukkan dalam kisah ini. Kami yakin banyak kisah-kisah serupa yang menggambarkan adanya tempat yang tidak mengenal siklus waktu. Fun fact, penulisnya pernah bertanya, “Bagaimana jika waktu itu tidak ada? Bagaimana jika waktu itu sejatinya adalah ‘pertumbuhan’, ruang yang bergerak bersama-sama?”

Selain itu, penulis percaya bahwa planet Bumi kita terhubung secara energi dengan sebuah tempat entah di mana.

Semoga perjalanan Rhea memberikan perspektif baru bagi Anda tentang betapa berharganya setiap detik yang kita miliki saat ini. Terima kasih telah mendengarkan detak waktu di Semesta Kisah.

Disclaimer

Tulisan ini bisa jadi merupakan interpretasi bebas dari kisah-kisah yang ada. Dialog atau adegan yang ada belum tentu sama dengan kisah aslinya. Disclaimer selengkapnya

Leave a Comment