Enam belas tahun lalu, seorang bocah bernama Kamil pergi dari rumah hanya dengan meninggalkan sepucuk surat. Kini, ia kembali sebagai Malik—seorang pengusaha sukses di ibukota yang dihantui rasa bersalah.
Bagian I: Anak Durhaka!
“Sudahlah, Bu, Ibu bukan ibu saya. Ibu bahkan tak tahu nama kecil saya.”
Mendengar ucapan Malik barusan, mata wanita tua itu membelalak, suaranya bergetar menahan marah.
“Beraninya kamu bilang kalau aku bukan ibumu?!” sentak wanita tersebut. “Kamu anak durhaka!”
Wanita tua berpakaian lusuh itu kemudian menengadahkan wajah dan mengangkat tangannya,
“Ya Tuhan! Jika saja aku tahu anakku akan berlaku seperti ini, lebih baik aku dulu membuangnya ke tempat sampah. Tuhan, aku mohon pada-Mu, berilah hukuman yang pantas buat anak durhakaku ini!”
Malik masih acuh tak acuh menatap wanita tua tersebut.
“Sudah doanya, Bu? Doa itu nggak akan mempan, toh saya bukan anak Ibu.”
Ia lalu memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya,
“Kasih dia uang.”
Lima lembar uang seratus ribuan diangsurkan ke tangan wanita tersebut yang dengan bergetar menerimanya
“Terimalah uang itu dan jangan lagi coba-coba mengaku saya sebagai anak Ibu,” kali ini terasa ada pancaran kemarahan dari sorot mata Malik, dan wanita itu merasakannya.
“Maafkan saya, Pak, Bu,” ujar wanita tua itu yang kemudian dengan langkah tertatih meninggalkan Malik diikuti tatapan semua orang yang ada di situ, termasuk Seruni – istri Malik.
Malik memandang istrinya dan menghela napas.
Bagian II: Flashback
16 tahun lalu…
Tanpa sepengetahuan sang bunda, di suatu siang seorang bocah berusia 11 tahun melaksanakan niatnya merantau ke kota, dan hanya meninggalkan sepucuk surat.
Bunda,
Aku pergi sebentar, aku pasti pulang.
Doakan aku, Bunda.
7 tahun lalu…
Ini pertama kalinya pemuda itu kembali ke kampung halaman setelah bertahun-bertahun mencari peruntungan dari satu tempat ke tempat lain. Bermacam pekerjaan telah dilakoninya hingga ia menetap di ibukota dan membuka usaha kecil-kecilan. Usahanya berkembang sehingga ia memiliki cukup uang untuk menjemput bundanya.
Namun apa yang ditemuinya sungguh di luar dugaan
Rumah kecil tempat mereka tinggal sudah tidak ada lagi, berganti pusat perbelanjaan yang megah.
Sia-sia ia mencoba mencari keberadaan sang bunda. Bundanya bukanlah siapa-siapa, tiada orang yang mengenalnya.
Ia menyesal.
Sejak itu ia mengganti namanya menjadi Malik.
Dan setiap bulan Ramadan, Malik kembali ke kampung halamannya mencari keberadaan sang bunda – sampai sekarang.
Bagian III: Seruni
Hari ini hari terakhir Ramadan, dan seperti yang sudah-sudah, pencariannya harus diakhiri. Usai Ramadan, Malik harus kembali ke ibukota dan kembali pada rutinitas hariannya sebagai seorang pengusaha.
Lelaki itu menghela napas.
“Bang,” terdengar sapaan Seruni. “Kita cari Bunda lagi?”
Malik mengangguk.
“Tapi kali ini kita jalan kaki saja, nggak usah pake mobil atau motor,” lanjut Seruni.
“Mana bisa kita ketemu Bunda kalau cuma jalan kaki?” tukas Malik gusar.
“Bang,” jawab Seruni sabar, “Runi tahu Abang sudah bertahun-tahun berusaha mencari Bunda, tapi mungkin Abang selama ini kurang ikhlas nyari Bunda.”
“Maksudmu?” tanya Malik lagi.
“Bang, selama ini Abang selalu nyari dengan panik karena target Abang bahwa Bunda harus ketemu sebelum bulan Ramadan berakhir. Abang panik, Abang nggak tenang nyari Bunda.”
Malik tertegun.
Runi benar. Selama ini aku seperti orang kesetanan, panik nyari kesana-kemari.
“Jadi, Runi pikir, biarlah hari ini kita coba menemukan Bunda dengan ketenangan hati Abang. Insya Allah ada hasilnya, Bang.”
Hati Malik serasa disiram air sejuk mendengar perkataan istrinya barusan. Ia tersenyum dan menggenggam kedua tangan istrinya.
“Kamu benar, Dik. Kamu benar. Selama ini Abang kurang ikhlas nyari Bunda. Runi, terimakasih, Abang sekarang sadar kesalahan Abang selama ini.”
Seruni balas tersenyum.
Bagian IV: Luka Itu…
”Maaf ya, Dik, Abang maksa kamu jalan jauh. Kamu pasti capek.”
Malik dan Seruni dalam perjalanan kembali ke tempat mereka setalah berjalan kaki menelusuri jejak-jejak ingatan Malik pada bundanya.
“Nggak apa-apa, Bang,” jawab Seruni. “Tapi Runi memang capek, kita istirahat dulu di sana sambil nunggu buka puasa,” lanjutnya sembari menunjuk alun-alun di mana saat itu banyak orang yang sedang menunggu tibanya waktu berbuka.
Malik mengangguk setuju.
“Sebentar ya, Bang, Runi pesan makanan sama minuman,” ujar Seruni setelah mereka berdua mendapat tempat. Belum sempat Malik menjawab, Seruni sudah hilang di keramaian dengan tangkas.
Malik hanya tersenyum.
Bunda, seandainya Bunda tahu betapa baiknya istriku…
Beberapa menit kemudian ia mendengar suara istrinya,
“Ya, Bu, di sini.”
Ah, pesanan sudah datang.
Seorang wanita tua datang dan mengantar pesanan mereka.
Ketika melihat lengan wanita tersebut, ada desir halus dalam dada Malik.
Luka itu…
Ia teringat bahwa bundanya memiliki luka yang sama.
Refleks, Malik menahan tangan wanita itu diikuti tatapan kaget Seruni dan si pemilik tangan. Namun Malik tak peduli, dan saat ia menyentuh tangan itu, debaran di dadanya semakin kuat.
Semakin kuat.
“Bunda…” panggilnya lirih.
Terdengar pekikan lirih usai Malik memanggil si wanita tua dengan sebutan “bunda”.
“Ka… Kamil? Kamil? Itu kamu?”
“Bunda… bunda…,” Malik mulai terisak.
Berikutnya lelaki ini bangkit dari duduknya dan bersimpuh memeluk kaki si wanita tua. Isakannya berubah menjadi tangisan.
Malik menangis tanpa peduli keadaan sekelilingnya.
“Bunda… bunda, ampuni aku, Bunda.”
Wanita tua itu – sang bunda– tertunduk, dengan tangan bergetar ia mengusap kepala putra tunggalnya. Dua bulir air bening mengalir dari matanya.
“Kamil, anakku. Anakku…”
Seruni menatap pertemuan indah ibu dan anak tersebut. Matanya basah namun bibirnya menyunggingkan senyuman.
Catatan Kaki:
Kisah ini terinspirasi dan merupakan kisah alternatif dari salah satu dongeng klasik Nusantara paling populer yaitu Malin Kundang.
Kisah ini berangkat dari pertanyaan sederhana, “Bagaimana jika Malin tidak durhaka pada ibunya? Bagaimana jika Seruni adalah sosok istri yang baik?”
Dengan latar Ramadan yang identik dengan mudik, menghadirkan “Di Pengujung Ramadan” di Semesta Kisah adalah upaya penulisnya untuk menarik garis merah antara tradisi “pulang” dengan hakikat “asal-usul”. Jika dalam legenda klasik Malin Kundang kita melihat kutukan fisik menjadi batu, dalam versi modern dan alternatif ini, saya ingin mengeksplorasi kekeringan yang terjadi di dalam jiwa seseorang di tengah hiruk-pikuk hari kemenangan.
Ramadan sering kali dianggap sebagai waktu untuk mencuci dosa dan kembali ke fitrah. Namun, bagi karakter Malin di era modern ini, kemewahan dan status sosial justru menjadi hijab yang menghalanginya melihat hakikat sejati dalam dirinya, digambarkan dalam teguran Seruni yang mengatakan selama ini Malik alias Kamil sang tokoh utama tidak tenang dalam mencari bundanya.
Judul ini saya pilih untuk menggambarkan betapa paniknya Malik/Kamil setiap akhir Ramadan.
Melalui narasi ini, saya ingin mengajak pembaca merenung bahwa “kutukan” di masa kini mungkin tidak lagi berupa raga yang membatu, melainkan hilangnya rasa damai di tengah keberlimpahan. Mudik bukan sekadar perpindahan fisik dari kota ke desa, melainkan perjalanan hati untuk kembali mengakui siapa diri kita sebenarnya.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama di momen-momen suci, bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, doa seorang ibu adalah satu-satunya navigasi yang tidak akan pernah menyesatkan. Terima kasih telah menyimak sudut pandang alternatif ini di Semesta Kisah.